Informasi Unik

Legenda Hari Cheng Beng

Legenda Hari Cheng Beng

Legenda Hari Cheng Beng – Menceritakan tentang kaum Tionghua yang melakukan ziarah ke makan leluhur yang menunjukkan rasa hormat pada orang tua dan leluhur yang diadakan setahun sekali.

Berikut ini adalah  legenda mengenai Cheng Beng

Legenda Pertama

Pada masa pelarian karena selir yang jahat ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh pengikut yang sangat setia yaitu Jie Zhitui. Karena setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan tidak mati kelaparan.

Suatu hari, tiba kabar ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.

Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetap meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung.

Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar.

Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak dan memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Cheng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.

Legenda Kedua

Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang, namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan.

Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.

Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal karena dibunuh oleh raja musuh. Dan tidak ada yang mengetahui di mana orang tua sang raja dimakamkan.

Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib ziarah. Bagi yang sudah berziarah maka makam harus diberi kertas kuning.

Sehingga makam yang belum dibersihkan dianggap salah satunya pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib ziarah ke makam leluhur.

Legenda Ketiga

Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang kaya, ziarah itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar memamerkan kekayaan.

Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara ziarah ini sekali setahun.

Dan ia menetapkan hari Cheng Beng (lima belas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Cheng Beng adalah hari baik (arti kata Cheng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”).

Hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Cheng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.

Demikian Informasi Unik Mengenai Legenda Hari Cheng Beng

Festival Cheng Beng di China

Festival Chengbeng Di Negeri China

Festival Chengbeng Di Negeri China – Qingming, arti yang jelas dan terang, adalah hari berkabung orang mati. Jatuh  pada awal April setiap tahun.

Ini sesuai dengan timbulnya cuaca hangat, awal musim semi untuk membajak, dan acara keluarga. Selain Qingming ada acara Hanshi yang selalu datang satu hari sebelum Qingming. Hanshi secara harafiah artinya makanan dingin.

Orang akan mengunjungi makam leluhur mereka di hari Qingming. Mereka akan membersihkan, mencabut rumput-rumput liar dan menyapu dedaunan pada makam orang tua dan leluhur mereka.

Inilah sebabnya mengapa Qingming juga dikenal sebagai Hari Menyapu Makam. Stasiun kereta bawah tanah Beijing sangat padat pada saat Qingming. Orang-orang berduyun-duyun ke Babaoshan.

Pemakaman Beijing yang paling terkenal dan krematorium, untuk memberikan penghormatan kepada orang-orang yang mereka cintai yang telah meninggal.

Di negeri asalnya di Tiongkok, festival Qingming dianggap sebagai libur . Di Tiongkok sendiri festival Qingming diisi dengan berbagai kegiatan.

Seperti membersihkan kuburan leluhur, outing bersama keluarga, dan bermain layang-layang. Bahkan beberapa orang akan menggunakan dahan pohon Willow atau Gandarusa.

Pohon Willow ada yang menyebutnya dengan pohon Dedalu menangis ada juga yang menyebutnya pohon Gandarusa.  Dedalu atau Gandarusa (bahasa Inggris: willow) adalah sekelompok pohon atau semak.

Yang meskipun berkeluarga memiliki ukuran yang berbeda-beda dengan kebiasaan pertumbuhan yang berbeda-beda pula, namun memiliki kesamaan di bidang-bidang lainnya.

Pohon Willow biasanya tumbuh di tepian sungai atau aliran air yang dangkal. Pohon ini bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 30 meter.

Pohon Willow memiliki daun yang ramping dengan cabang dan dahan yang panjang serta kurus. Tak ayal pohon Willow dikenal tahan terjangan angin badai.

Baca Juga Artikel Kami Yang Sangat Menarik Dan Unik:

Nama latin dari pohon Willow ini adalah Salix Babylonica. Pohon yang tumbuh subur di daratan Tiongkok ini juga tumbuh hingga ke Amerika Utara. Karena keunikan dedauannya yang membentuk seperti atap alami, pada zaman dahulu.

Pohon Willow ini kerap digunakan bangsa Israel sebagai tempat menggantungkan kecapi. Dalam tradisi Tiongkok pohon Willow ini sangat kuat terhadap berbagai cuaca, bahkan memiliki kandungan obat yang mujarab.

Demikian Informasi Unik Festival Cheng Beng di China

Asal Usul Hari Cheng Beng

Asal Usul Hari Cheng Beng

Asal Usul Hari Cheng Beng – Atau Qing Ming (Hanzi : 清明) adalah hari untuk etnis tionghoa untuk melakukan ziarah rutin setiap tahunnya ke makam orang tua atau leluhur. Hari Ceng Beng biasanya jatuh pada tanggal 5 April untuk setiap tahunnya.

Warga Tionghoa biasanya akan datang ke makam kuburan orang tua atau leluhur untuk membersihkannya dan sekalian bersembahyang/pai di makam  tersebut sambil membawa buah-buahan, kue-kue, makanan, serta karangan bunga.

Tujuan dari perayaan Ceng Beng ini sendiri adalah agar supaya semua kerabat dekat, saudara, anak-anak, bisa berkumpul bersama sehingga hubungan kekeluargaansemakin erat terjalin.

Sehingga kebanyakan orang yang sudah merantau akan pulang saat perayaan untuk melakukan ziarah untuk menghormati leluhur. Walaupun terdapat berbeda agama atau kepercayaan.

Bukan berarti sudah tidak perlu datang untuk berziarah ke makam orang tua dan leluhur. Jika berpendapat seperti itu artinya Anda salah. Ziarah ke kuburan orang tua dan leluhur tidak berarti Anda melakukan pemujaan terhadap orang.

Yang sudah meninggal atau berhala akan tetapi disini diajarkan untuk kita selalu mengingat orang tua dan leluhur kita walaupun sudah meninggal sangat lama. Karena tanpa orang tua dan leluhur kita tidak mungkin hidup di dunia saat ini.

Luangkanlah waktu karena Ceng Beng hanya setahun sekali. Zairah dapat disesuaikan sesuai dengan keyakinan masing-masing orang. Ada yang berpendapat juga jika pegang hio/dupa tidak diperbolehkan bagi yang menganut agama tertentu.

Baca Juga Artikel Kami Yang Sangat Menarik Dan Unik:

Hal ini tidak jadi masalah, sebenarnya memegang hio bukan ajaran agama tertentu tetapi merupakan adat Tionghoa. Tentunya tidak masalah hanya untuk sekedar pegang hio memberikan penghormatan kepada orang tua atau leluhur.

Karena semua agama pasti mengajarkan untuk menghormati orang tua. Tidak hanya orang tua yang masih hidup tetapi yang sudah meninggal pun masih harus kita hormati. Untuk mengingat kasih sayang mereka kepada kita keturunannya.

Jika terdapat kuburan yang sudah terlihat rusak, akan diperbaiki, di cat ulang kembali bahkan dibangun dan diperindah demi menghormati para leluhurnya.

Karena, menjaga nama baik para leluhur merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Untuk itulah. Tradisi Cheng Beng ini diadakan untuk  mengingatkan terus bahwa menjaga nama baik para leluhur. Merupakan hal yang harus selalu dijunjung dalam kehidupan bermasyarakat.

Demikian Informasi Unik mengenai asal usul Hari Cheng Beng