Informasi Unik

Tradisi Bakar Kertas

Tradisi Bakar Kertas

Tradisi Bakar Kertas, Pada saat festival Cheng Beng sangat erat kaitannya dengan acara pembakaran kertas oleh keturunan yang masih hidup untuk leluhur yang telah tiada.

Sejak zaman dulu dikenal ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua).

Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Zaman terus berubah, tradisi yang tadinya sengaja dicetuskan oleh Kaisar Lie Sie Bien dengan maksud dan tujuan yang baik, yakni membantu dan menolong kaum miskin, sekarang masalahnya menjadi lain.

“Kertas Emas dan Perak” yang dulunya di produksi oleh industri rumah tangga orang-orang miskin, sekarang sudah di produksi secara massal oleh pabrik-pabrik yang tentunya milik pengusaha kaya. Sehingga maksud dan tujuan untuk pemerataan penghasilan sudah tidak bermakna lagi.

Kalau dulu upacara “Bakar Kertas” itu selalu diiringi dengan doa dan harapan untuk kebahagiaan para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal. Saat ini makna ini sudah semakin kabur karena tidak banyak lagi orang yang tahu asal mula.

Maksud dan tujuan sesungguhnya dari tradisi “Bakar Kertas” ini. Malah sekarang ada anggapan bahwa semakin banyak “kertas emas dan perak” ini dibakar adalah semakin baik. Dan membuat leluhur dan sanak keluarga semakin kaya dan semakin senang di alam sana.

Baca Juga Artikel Kami Yang Sangat Menarik Dan Unik:

Ditambah lagi dengan berbagai ide yang menyesatkan. Seperti membuat uang kertas “Hell Bank Note” yaitu uang kertas dengan nilai nominal milyaran. Yang bentuknya mirip dengan uang kertas yang digunakan pada zaman sekarang.

Yang membedakannya adalah kalau pada uang kertas yang berlaku pada umumnya ada yang bergambar kepala negara atau pahlawan. Tetapi pada uang kertas yang akan dikirim kepada para leluhur. Yang telah meninggal ini bergambar Yen Lo Wang (Giam Lo Ong).

Yakni Dewa Yama, penguasa alam neraka, dan adanya tulisan “Hell Bank Note” (Mata Uang Neraka). Selain itu ada juga  peralatan-peralatan modern dan canggih dari kertas seperti pesawat televisi, hand phone, mobil mewah, televisi, parabola, dll.

Untuk dibakar guna dikirimkan pada leluhur dan sanak keluarga di alam sana. Tentunya akan semakin mengaburkan maksud dan tujuan tradisi “Bakar Kertas” ini.

Demikian Informasi Unik Tradisi Bakar Kertas

 

Perayaan Hari Cheng Beng

Perayaan Hari Cheng Beng

Perayaan Hari Cheng Beng – Disebut juga dengan perayaan Qing Ming merupakan tradisi etnis Tionghoa bersembahyang dan ziarah kubur para leluhurnya. Biasanya tradisi ini dilakukan setiap satu tahun sekali.

Tradisi ini biasannya bersamaan dengan pemeluk agama Kristen untuk membersihkan dan meletakkan bunga di makam orang tua karena bertepatan dengan hari Paskah.

Bagi masyarakat Tionghoa biasanya selain bersembahyang. Para keturunan yang masih hidup harus membersihkan kuburan leleuhurnya. Jika sudah rusak harus diperbaiki, jika cat nya sudah luntur harus di cet kembali.

Agar makam tetap terlihat terawat oleh keturunannya. Saat ziarah masyarat Tionghoa akan membawa beberapa makanan kesukaan mendiang.

Kue-kue, buah-buahan dan karangan bunga. Pada umumnya masyarakat Tionghua juga melakukan pembakaraan uang kertas  baik berupa kertas perak (gin cua) maupun kertas emas (kim cua).

Baca Juga Artikel Kami Yang Sangat Menarik Dan Unik:

Ada juga yang membakar baju dari kertas dan masih banyak perlengkapan lain dari kertas untuk upacara sembahyang kepada para leluhur. Dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Mereka yang mempercayai tradisi ini beranggapan bahwa dengan membakar kertas emas dan perak. Itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa.

Orang tua yang sudah tiada dan leluhur mereka. Sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada zaman Tiongkok kuno.

Tujuan tradisi Cheng Beng ini para kerabat, saudara sedarah dan sanak famili bisa saling kenal dan berkumpul bersama dan mempererat tali kekeluargaan diantara kerabat keluarga lainnya.

Bagi yang sudah merantau akan pulang kekampung halaman untuk ikut merayakan tradisi ini. Tradisi ini tetap dilakukan meskipun dalam satu keluarga tersebut sudah berbeda agama.

Inilah indahnya tradisi etnis Tionghoa yang mampu menjaga hubungan keluarga besar dalam sebuah tradisi. Walaupun berbeda agama dan kepercayaan, tradisi Cheng Beng ini tetap dilaksanakan sebagai sebuah bentuk pernghormatan kepada orang tua.

Yang sudah tiada. Jangan beranggapan bahwa tradisi ini adalah penyembahan berhala. Tradisi ini merupakan penghormatan kepada orang tua yang sudah tiada.

Menyebar Kertas dan Membersihkan Kuburan di Hari Cheng Beng

Menyebar Kertas Di Hari Cheng Beng

Menyebar Kertas Di Hari Cheng Beng – Merupakan sebuah Tradisi yang dilakukan pada Hari Cheng Beng. Konon menurut cerita rakyat masyarakat Tionghoa, asal mula dari ziarah kubur atau Cheng Beng.

Ini berawal dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M). Zhu Yuanzhang awalnya berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Karena itu dalam membesarkan dan mendidik Zhu Yuan Zhang.

Orang tuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil. Ketika dewasa, Zhu Yuan Zhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah. Sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol).

Baca Juga Artikel Kami Yang Sangat Menarik Dan Unik:

Berkat kepintaran dari Zhu Yuan Zhang maka dalam waktu singkat Zhu Yuan Zhang telah mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut.  Sehingga berencana untuk kemudian menaklukkan Dinasti Yuan (1271-1368 M).

Sampai akhirnya Zhu Yuan Zhang dapat menjadi seorang kaisar. Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orang tuanya. Sesampainya di desa ternyata orang tuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.

Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orang tua nya. Maka sebagai seorang kaisar, Zhu Yuan Zhang memberi perintah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur.

Mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan oleh kaisar Zhu Yuan Zhang. Setelah selesai membersihkan makam leluhur mereka dan melakukan ziarah. Bagi masyarakat yang sudah selesai.

Maka diperintahkan juga untuk meletakkan kertas kuning di atas masing – masing makam keluarga mereka. Kertas emas diletakkan pada atas makam sebagai tanda bahwa makam tersebut telah dibersihkan oleh keluarganya masing-masing.

Setelah semua rakyat selesai melakukan ziarah ke keluarga mereka masing-masing. Maka kaisar  Zhu Yuan Zhang memeriksa makam – makam yang ada di desa tersebut. Dan menemukan makam – makam yang belum dibersihkan oleh keluarganya.

Serta tidak diberi tanda. Kemudian kaisar menziarahi makam – makam tersebut dengan beranggapan bahwa di antara makam – makam tersebut pastilah ada makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhur nya.

Hal ini kemudian dijadikan tradisi untuk setiap tahunnya hingga sekarang ada yang menggunakan kertas kuning, kertas putih atau ada juga yang meletakkan kertas warna warni dan ditusuk dengan  hio, lilin atau hanya diletakkan batu

 

Tradisi Kuno Hari Cheng Beng

Tradisi Kuno Hari Cheng Beng

Tradisi Kuno Hari Cheng Beng, Pada saat ziarah keluarga akan membawa makanan. Membersihkan makam, melakukan sembayang di makam. Pembakaran kim cua dan qin cua.

Menanam pohon: sebelum dan sesudah “Cheng Beng”, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat.

Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala “Cheng Beng”. Ada orang menyebut hari “Cheng Beng” sebagai “hari raya penanaman pohon”.

Tradisi lain saat Cheng Beng adalah  bermain ayunan “Qiu Qian”: ini adalah adat kebiasaan hari “Cheng Beng” zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.

Akhir-nya berkembang menjadi dua utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.

Baca Juga Artikel Kami Yang Sangat Menarik Dan Unik:

Selain itu ada kebiasaan bermain “Cu Ju” (sepak bola kuno): “Ju” adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. “Cu Ju “menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat “Cheng Beng “pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh “Huang Di “(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.

APada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan.

Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Makan makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.

Demikian Informasi Unik Tradisi Kuno Hari Cheng Beng

Tradisi Membakar Kertas pada Hari Cheng Beng

Tradisi Membakar Kertas Hari Cheng Beng

Tradisi Membakar Kertas Hari Cheng Beng –  Ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi Cheng Beng. Yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua).

Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa. Sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembayang kepada para leluhur. Dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Konon tradisi Bakar uang kertas dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana serta pemeluk Agama Buddha yang taat sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.

Dalam pandangan Kaisar sendiri, beliau puas dengan kemakmuran yang ada disekeliling beliau. Masyarakat dikota raja semuanya hidup bahagia, tenteram dan damai. Sampai suatu ketika sang raja pergi keluar kota raja dan melihat keadaan masyarakatnya yang sesungguhnya.

Keadaan diluar kota raja sungguh menyedihkan. Mereka hanya cukup untuk makan, namun mereka tidak punya apa-apa dan hidup dalam kemiskinan. Yang ada hanyalah pohon-pohonan bambu saja dihalaman rumah mereka.

Membakar Kertas Hari Cheng Beng

Sekembalinya ke kota raja, sang kaisar murung dan terus berpikir keras bagaimana caranya untuk menyeimbangkan kesejahteraan rakyatnya baik yang dikota maupun diluar kota raja. Akhirnya kemudian dikisahkan sang raja mendapatkan ide untuk berpura-pura mangkat, dengan demikian maka seluruh orang kaya di kota raja akan berkumpul untuk melayat beliau.

Tersebar kabar bahwa Kaisar menderita sakit yang cukup parah, mendengar kabar ini rakyat menjadi sedih. Beberapa hari kemudian secara resmi keluar pengumuman dari Kerajaan bahwa Kaisar Lie Sie Bien meninggal dunia.

Rakyat benar benar berduka-cita karena merasa kehilangan seorang Kaisar yang dicintai. Sebagai ungkapan rasa duka-cita ini penduduk memasang kain putih di depan pintu rumahnya masing-masing. Tanda ikut berkabung atas mangkatnya Sang Kaisar.

Sebagaimana tradisi pada waktu itu, jenazah Kaisar tidak langsung dikebumikan.
Melainkan disemayamkan selama beberapa minggu untuk memberi kesempatan. Pada para pejabat istana dan rakyat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Alkisah, setelah beberapa hari kemudian Kaisar Lie Sie Bien hidup kembali atau
bangkit kembali dari kematiannya. Dan kemudian beliau bercerita mengenai perjalanan panjangnya menuju alam neraka, yang dialaminya selama saat kematiannya.

Dimana salah satu cerita beliau, adalah ketika beliau dalam perjalanan menuju
alam neraka, sang Kaisar bertemu dengan ayah bunda, dan sanak keluarga, serta teman-temannya yang telah lama meninggal dunia.

Dimana dikisahkan bahwa kebanyakan dari mereka berada dalam keadaan menderita kelaparan, kehausan, dan serba kekurangan walaupun dulu semasa hidupnya mereka hidup senang dan mewah.

Tradisi Hari Raya Cheng Beng

Keadaan mereka sangat menyedihkan, walaupun saat ini anak-anak dan keturunannya yang masih hidup berada dalam keadaan senang dan bahagia.

Makhluk-makhluk yang menderita ini berteriak memanggil Lie Sie Bien untuk minta pertolongan dan bantuannya untuk mengurangi penderitaan mereka. Menurut Kaisar mereka ini sangat mengharapkan bantuan dan pemberian dari keturunan dan sanak-keluarganya yang masih hidup.

Lalu sang Kaisar menghimbau dan menganjurkan agar keturunan dan sanak keluarga
yang masih hidup jangan sampai melupakan leluhur dan keluarganya yang telah meninggal.

Kita yang masih hidup wajib mengingat dan memberikan bantuan kepada mereka yang menderita di alam sana, sebagai balas budi kita kepada leluhur kita itu.

Untuk itu keluarga yang masih hidup dianjurkan untuk mengirimkan bantuan dana kepada mereka yang berada di alam penderitaan itu. Karena yang berkisah ini adalah seorang Kaisar yang sangat dihormati dan dicintai segenap rakyatnya.

Maka tentu saja cerita ini dipercayai, dan himbauan kaisar langsung mendapatkan tanggapan yang baik dari para pejabat, bangsawan, dan seluruh rakyat kerajaan Tang.

Lie Sie Bien adalah seorang yang cerdas, beliau tahu betul bahwa dari sekian luas wilayah kerajaan Tang (Tiongkok). Tidak semua daerah tersebut sama kesuburan tanahnya, ada daerah-daerah yang gersang dan tandus.

Yang hanya dapat ditumbuhi pohon bambu yakni bahan baku untuk pembuat kertas pada waktu itu. Nah, penduduk daerah inilah yang dikerahkan untuk membuat “kertas emas dan perak” untuk keperluan sembahyang kepada para leluhur itu.

Demikian Informasi Unik Tradisi Membakar Kertas Pada Hari Cheng Beng